KENDAL(SUARABARU.ID) - Ibu-ibu majelis taklim perwakilan dari 27 RT di Graha Raya 3, Desa Kliris Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jateng melakukan doa bersama untuk para hakim yang ada di Indonesia.. Kegiatan yang diselenggarakan Penghubung Komisi Yudisial (PKY) Jateng tersebut dikemas dalam 'Ngaji Hukum' dengan tema 'Peran Ibu-ibu Melenial dalam Menjaga Marwah Peradilan di Era ØTiap-tiap kegiatan mengarah pada tujuan di dalam majlis taklim. KEGIATAN -KEGIATAN BESAR YANG SUDAH DILAKUKAN : Ø Menjadi Panitia Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H ( Sabtu, 18 Februari 2014), bertempat Gedung Azahra Komplek Lebak Indah Trondol Kota Serang Banten. Penghentiansementara kegiatan majelis taklim turut cegah penyebaran corona. Penghentian sementara kegiatan majelis taklim turut cegah penyebaran corona. REPUBLIKA.ID; REPUBLIKA TV; GERAI; IHRAM; REPJABAR; REPJOGJA; RETIZEN; BUKU REPUBLIKA; Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022. Menu. HOME Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. Abstrak Kecamatan Koto Tangah adalah Kecamatan yang paling padat penduduknya. Kecamatan ini memiliki jumlah penduduk perempuan yang cukup besar. Pemberdayaan perempuan sangat penting dilakukan untuk memiliki jiwa kewirausahaan dalam mengembangkan ekonomi produktif. Pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan akses terhadap pengetahuan dan keterampilan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Kegiatan pelatihan keterampilan diharapkan berdampak pada kemampuan perempuan menciptakan lapangan kerja. Melalui pelatihan keterampilan merajut, perempuan dapat menghasilkan produk-produk rajutan yang bernilai ekonomis. Mitra yang dipilih adalah kelompok masyarakat yaitu anggota Majelis Ta’lim Masjid Al-Ikhlas di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam Kecamatan Koto Tangah. Sebagian besar ibu-ibu yang bergabung dalam Majelis Ta’lim yang beranggotakan sebanyak 40 orang adalah ibu rumah tangga yang pada umumnya tidak bekerja dan mempunyai penghasilan yang relatif rendah. Pengabdian Kepada Masyarakat telah dilakukan dengan memberikan pelatihan terhadap ibu-ibu anggota Majelis Ta’lim. Pelatihan yang diberikan adalah membuat kerajinan rajutan tangan. Dalam pelaksanaan kegiatan, para ibu-ibu sangat antusias dalam menyimak penjelasan dan peragaan dari narasumber dan melalui tayangan video. Berbagai model rajutan diajarkan sehingga akan mempermudah mereka dalam membuat berbagai macam rajutan sehingga dapat menumbuhkan semangat berwirausaha dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Abstract Koto tangah district is the most densely populated sub-district. This sub-district has a large enough female population. empowering women is very important to have an entrepreneurial spirit in developing a productive economy. Empowering women to increase access to knowledge and skills, so as to improve family welfare. Skills training activities are expected to have an impact on women's ability to create employment. through training in knitting skills, women can produce knitted products of economic value. The partner chosen was the community group members of the al-ikhlas mosque assembly council in dadok tunggul hitam village, koto tangah district. most of the mothers who joined the ta'lim assembly with 40 members were housewives who generally did not work and had relatively low incomes. Community service has been carried out by providing training to women members of the ta'lim assembly to develop their economy. The training provided is making hand-knitted crafts. in carrying out the activity, the mothers were very enthusiastic in listening to the explanation and demonstration from the speakers and through the video. Various knitting models are taught so that it will facilitate them in making various kinds of knits so as to foster an entrepreneurial spirit in increasing family income. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free 77 Jurnal Masyarakat Mandiri JMM Vol. 2, No. 1, Juni 2018, Hal. 77-82 e-ISSN 2614-5758 p-ISSN 2598-8158 PEMBERDAYAAN ANGGOTA MAJELIS TA’LIM AL-IKHLAS MELALUI KEGIATAN KETERAMPILAM MERAJUT DI DADOK TUNGGUL HITAM PADANG Zeshasina Rosha1, Linda Wati2, Ice Kamela3, Arfan Ananda4, Fisti Dea M5 1,2,3,4,5Management Department, Faculty of Economics, Bung Hatta University, Indonesia 1zeshasina 2lindawati 3icekamela 4arfanda 5fistidea Abstrak Kecamatan Koto Tangah adalah Kecamatan yang paling padat penduduknya. Kecamatan ini memiliki jumlah penduduk perempuan yang cukup besar. Pemberdayaan perempuan sangat penting dilakukan untuk memiliki jiwa kewirausahaan dalam mengembangkan ekonomi produktif. Pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan akses terhadap pengetahuan dan keterampilan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Kegiatan pelatihan keterampilan diharapkan berdampak pada kemampuan perempuan menciptakan lapangan kerja. Melalui pelatihan keterampilan merajut, perempuan dapat menghasilkan produk-produk rajutan yang bernilai ekonomis. Mitra yang dipilih adalah kelompok masyarakat yaitu anggota Majelis Ta’lim Masjid Al-Ikhlas di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam Kecamatan Koto Tangah. Sebagian besar ibu-ibu yang bergabung dalam Majelis Ta’lim yang beranggotakan sebanyak 40 orang adalah ibu rumah tangga yang pada umumnya tidak bekerja dan mempunyai penghasilan yang relatif rendah. Pengabdian Kepada Masyarakat telah dilakukan dengan memberikan pelatihan terhadap ibu-ibu anggota Majelis Ta’lim. Pelatihan yang diberikan adalah membuat kerajinan rajutan tangan. Dalam pelaksanaan kegiatan, para ibu-ibu sangat antusias dalam menyimak penjelasan dan peragaan dari narasumber dan melalui tayangan video. Berbagai model rajutan diajarkan sehingga akan mempermudah mereka dalam membuat berbagai macam rajutan sehingga dapat menumbuhkan semangat berwirausaha dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Kata Kunci Majelis Ta’lim, Pemberdayaan perempuan, Keterampilan Abstract Koto tangah district is the most densely populated sub-district. This sub-district has a large enough female population. empowering women is very important to have an entrepreneurial spirit in developing a productive economy. Empowering women to increase access to knowledge and skills, so as to improve family welfare. Skills training activities are expected to have an impact on women's ability to create employment. through training in knitting skills, women can produce knitted products of economic value. The partner chosen was the community group members of the al-ikhlas mosque assembly council in dadok tunggul hitam village, koto tangah district. most of the mothers who joined the ta'lim assembly with 40 members were housewives who generally did not work and had relatively low incomes. Community service has been carried out by providing training to women members of the ta'lim assembly to develop their economy. The training provided is making hand-knitted crafts. in carrying out the activity, the mothers were very enthusiastic in listening to the explanation and demonstration from the speakers and through the video. Various knitting models are taught so that it will facilitate them in making various kinds of knits so as to foster an entrepreneurial spirit in increasing family income. Keywords Majelis ta’lim, women's empowerment, skills 78 Jurnal Masyarakat Mandiri JMM Vol. 2, No. 1, Juni 2018, hal. 77-82 A. LATAR BELAKANG Berdasarkan data BPS Kota Padang tahun 2016, jumlah penduduk Kota Padang menurut jenis kelamin, jumlah perempuan lebih banyak dari pada laki-laki. Dimana perempuan orang dan laki–laki orang. Sedangkan Kecamatan yang paling padat penduduknya adalah kecamatan Koto Tangah, dimana jumlah penduduk sebanyak orang terdiri dari laki-laki orang dan perempuan orang BPS, Kota Padang . Dengan jumlah perempuan yang cukup besar, perlu pemberdayaan perempuan untuk memiliki jiwa kewirausahaan dalam mengembangkan ekonomi produktif. Pemberdayaan perempuan dapat melalui pengembangan kewirausahaan keluarga. Pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan akses terhadap pengetahuan dan keterampilan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ada pandangan selama ini kalau perempuan selalu dikonotasikan sebagai manusia pekerja domestik homemaker yang dianggap tidak dapat berkontribusi secara aktif di luar rumah sehingga perannya tidak lebih dari sekadar aktivitas dalam rumah. Sekarang justru perempuan memiliki peranan penting dalam mengembangkan ekonomi produktif dan di dunia kerja. Tuwu, 2018 Sudah menjadi trend Para Ibu di kota besar maupun di daerah membentuk kelompok majelis taklim. Tujuan majelis taklim ini lebih pada kegiatan sosial yaitu menjalin silaturahmi sekaligus pengajian Basit, 2010. Sebenarnya pertemuan rutin tersebut bisa menjadi peluang untuk meningkatkan perekonomian keluarga dengan memberikan pelatihan untuk membuat produk sederhana yang mempunyai nilai jual. Di samping sebagai bentuk peningkatan kemampuan para ibu, kegiatan tersebut juga bisa dikembangkan menjadi kegiatan wirausaha para ibu yang bisa menambah perekomian keluarga. Sutrisno, 2018. Majelis ta’lim perempuan sebagai lembaga pendidikan non formal yang ada di masyarakat memiliki potensi dan peran yang besar manakala dapat diberdayakan secara maksimal. Kegiatan pelatihan kewirausahaan kepada majelis ta”lim diharapkan berdampak pada kemampuan/keberdayaan perempuan menciptakan lapangan kerja. Melalui pelatihan kewirausahaan dalam memanfaatkan potensi alam yang berada di lingkungan setempat, perempuan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Kelompok majelis Ta’lim yang dipilih adalah kelompok masyarakat yaitu Majelis Ta’lim Masjid Al-Ikhlas di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam Kecamatan Koto Tangah. Dari kunjungan ke tempat Majelis Ta’lim didapatkan informasi sebagian ibu-ibu yang bergabung dalam Majelis Ta’lim adalah ibu rumah tangga dan mempunyai penghasilan yang relatif rendah. Berdasarkan analisis situasi dipilih kelompok majalis taklim ini yang terdiri dari wanita yang pada umumnya tidak bekerja dan mempunyai 79 Zeshasina Rhosa, Pemberdayaan Anggota Majelis... waktu luang. Majelis Ta’lim Mesjid Al-Ikhlas adalah salah satu majelis Taklim yang ada di Kelurahan Tunggul Hitam Padang. Perkumpulan ibu-ibu yang beranggotakan sebanyak 40 orang. Kegiatan rutin yang biasa dilakukan kelompok ini adalah melakukan Pengajian setiap minggu, arisan bulanan, yasinan serta latihan rebana. Sama halnya dengan majelis taklim lainnya, majelis taklim ini kegiatan lebih berorientasi kepada kegiatan keagamaan dan sosial. Menurut Putri & Darwis, 2015, perempuan dalam kelompok majelis Taklim dapat diberdayakan agar mampu meningkatkan perekonomian keluarga. Perempuan harus mempunyai kemampuan untuk melihat potensi yang ada, peluang-peluang yang mungkin dapat dikembangkan. Menurut Hasanah, 2013Pemberdayaan perempuan adalah upaya peningkatan kemampuan perempuan dalam mengembangkan kapasitas dan keterampilannya . Melihat kondisi ini, melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat akan melakukan pelatihan terhadap anggota Majelis Ta’lim untuk bangkit membangun ekonominya. Program pemberdayaan berupa Pelatihan yang diberikan adalah membuat kerajinan rajutan tangan yang tidak mengesam-pingkan proses pendampingan dalam proses pelatihan Wildan Saugi & Sumarno, 2015. Pelatihan yang diberikan adalah membuat kerajinan rajutan tangan. Pertimbangan dipilihnya pelatihan membuat rajutan tangan karena membuat rajutan tidak sulit, waktu tidak terlalu lama dan bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan produk rajutan mudah didapat dan tidak mahal. Bahan baku utama sederhana berupa ram/net, kain, benang, spon dan asksesoris yang mudah dicari dan harganya relatif murah. Kerajinan rajutan dapat berupa rajutan pin, sendal, sepatu bayi, alas meja dan topi, serta sarung tangan untuk pengendara sepeda motor. B. METODE PELAKSANAAN Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat didanai oleh LPPM Universitas Bung Hatta. Untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, tim terdiri dari dua dosen yang mempunyai bidang keahlian dibidang Pemasaran, satu dosen mempunyai kosentrasi di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia serta mahasiswa yang membantu dalam menyiapkan pelatihan merajut. Sebagai tenaga ahli yang mengajarkan keterampilan merajut, tim mengundang seorang tenaga ahli yang memiliki keterampilan merajut dan memiliki usaha rajutan. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini, metode pelaksanaan dalam memberikan pelatihan keterampilan membuat kerajinan tangan handicraft adalah 1. Menghubungi Ketua Majelis Ta’lim Al-Ikhlas untuk mendiskusikan pelatihan dan mendata anggotanya yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. 80 Jurnal Masyarakat Mandiri JMM Vol. 2, No. 1, Juni 2018, hal. 77-82 2. Mengadakan sosialisasi kepada anggota Majelis Ta’lim Al-Ikhlas 3. Memberikan pelatihan, pendidikan dan pendampingan dengan materi a. Kewirausaahaan dan motivasi. b. Memberikan keterampilan, berupa pelatihan pembuatan kerajinan rajutan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Tahap Pertama telah dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 5 April 2018 bertempat di Musholla Nurul Wahyi Dadok Tunggul Hitam. Kegiatan yang diberikan adalah pelatihan keterampilan membuat kerajinan tangan/handycraft kerajinan rajutan. Dalam pelaksanaan kegiatan, masing-masing anggota Majelis Ta’lim diberi peralatan merajut antara lain jarum dan benang. Selain dipandu oleh tenaga ahli, untuk mempermudah ibu-ibu dalam keterampilan dasar merajut, tim juga menyediakan panduan dalam bentuk gambar serta tayangan video. Selama kegiatan, peserta yang berjumlah 20 orang sangat antusias dalam menyimak penjelasan dan peragaan dari narasumber dan tayangan video. Para peserta anggota Majelis Ta’lim Al-Ikhlas. Kegiatan PKM ini juga dihadiri oleh Bapak Lurah Dadok Tunggul Hitam, yang mengapresiasi kegiatan pelatihan di kelurahan yang dipimpinannya. Untuk kepentingan publikasi kegiatan sekaligus promosi bagi Universitas Bung Hatta secara umum, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi secara khusus, kegiatan ini juga diliput oleh media massa. Demi kelancaran pelaksanaan kegiatan PKM, Tim Dosen dibantu oleh mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta. Dalam upaya untuk melatih ibu- ibu majelis Taklim ini supaya lebih mahir, kegiatan PKM lanjutan dilaksanakan pada bulan berikutnya. Pelatihan kedua ini ditujukan kepada ibu-ibu Majelis Ta’lim yang memiliki keinginan untuk mendalami keterampilan merajut. PKM lanjutan ini, dihadiri oleh ibu-ibu yang sudah memiliki keterampilan dasar merajut. Dengan keterampilan dasar yang sudah dimiliki, membuat para ibu cepat tanggap dalam memahami hal-hal baru yang diajarkan oleh tenaga ahli. Pada tahap ini diberikan pelatihan berbagai model rajutan yang akhirnya akan mempermudah mereka dalam membuat berbagai macam rajutan sehingga dapat menumbuhkan semangat berwirausaha dalam meningkatkan pendapatan keluarga. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut adalah gambar seluruh peserta pelatihan dengan Tim Pengabdian Masyarakat yang terdiri ibu-ibu majelis Ta’lim gambar 1. Pada gambar 2 terlihat ibu-ibu peserta pelatihan rajutan antusias dalam belajar. Peserta dibagi atas dua kelompok yaitu kelompok pemula yang belum pernah belajar merajut dan kelompok yang sudah pernah merajut 81 Zeshasina Rhosa, Pemberdayaan Anggota Majelis... secara sederhana. Proses kegiatan pengabdian dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 berikut. Gambar 1. Peserta Pelatihan Gambar 2. Peserta Merajut Berikut adalah produk hasil pelatihan merajut Gambar 3. Contoh Gantungan Kunci dari Rajutan Gambar 4. Taplak Meja dan Sarung Bantal D. SIMPULAN DAN SARAN Program pengabdian masyarakat dalam rangka memberdayakan kelompok majelis taklim Masjid Al-Ikhlas di Kelurahan Dadok Tunggul Hitam ini berupa pembuatan berbagai kerajinan dari rajutan. Program pelatihan ini berjalan dengan baik, karena kerajinan rajutan yang dihasilkan mudah untuk dibuat. Tidak perlu memakan waktu yang lama untuk bisa menguasai keterampilan merajut. Hasil rajutan ini selain bisa digunakan sendiri, juga bisa dijual sebagai souvenir. Dengan memiliki keterampilan merajut, ibu-ibu majelis taklim bisa membuat berbagai kerajinan rajutan yang dapat dijual untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Saran yang dapat diusulkan dengan adanya program pemberdayaan perempuan melalui pelatihan keterampilan merajut ini 82 Jurnal Masyarakat Mandiri JMM Vol. 2, No. 1, Juni 2018, hal. 77-82 adalah untuk mendapatkan produk rajutan yang baik dan bisa dijual, pelatihan ini tidak hanya dilakukan sekali. Harus ada beberapa kali sesi latihan baik untuk merajut bagi pemula maupun yang sudah memiliki keterampilan dasar merajut. DAFTAR RUJUKAN Basit, A. 2010. Pemberdayaan Majelis Ta’lim Perempuan Dalam Perspektif Manajemen Dakwah. Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 42. Hasanah, S. 2013. Pemberdayaan Perempuan Melalui Kegiatan Ekonomi Berkeadilan Simpan Pinjam Syariah Perempuan. SAWWA, 91, 71–88. Hurriyati, R. 2010. Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Bandung Alphabeta. Kotler, Philip & Keller, K. L. 2009. Manajemen Pemasaran13th ed.. Jakarta Erlangga. Kotler, Philip dan Amstrong, G. 2008. Prinsip-prinsip Pemasaran 12th ed.. Jakarta Erlangga. Putri, O. N., & Darwis, R. S. 2015. Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 22, 29–283. Sutrisno, S. 2018. Pemberdayaan Anggota Majelis Taklim Melalui Usaha Susu Kedelai Dan Nugget. Journal of Community Service, 22, 21–28. Tuwu, D. 2018. Peran Pekerja Perempuan Dalam Memenuhi Ekonomi Keluarga Dari Peran Domestik Menuju Sektor Publik. Al-Izzah Jurnal Hasil-Hasil Penelitian, 13 1, 63. Wildan Saugi, & Sumarno. 2015. Pemberdayaan Perempuan Melalui Pelatihan Pengolahan Bahan Pangan Lokal. Jurnal Pendidikan Dan Pemberdayaan Masyarakat, 2November, 226–238. Umi MusaropahSuharto SuhartoDaluti DelimanugariCitra AyudiatiEntrepreneurship development based on creative industries for women congregation majelis taklim MT in Kepek village is carried out using the PAR Participation Action Research method which aims to encourage creative minds by pressing questions and participant-oriented guidance. Entrepreneurship development for MT female congregation in Kepek Gunung Kidul village can be achieved well. Among others are; There needs to be a follow-up in a series of mentoring and skills improvement, both for the main and supporting the business. The potential for good local wisdom can be converted into economic values. Massive development of marketing networks needs to be considered in order to have a bigger economic impact on the surrounding community. The government is advised to support deeper exploration of the local economic wisdom of the people of Gunung Kidul so that it can have a direct positive impact on its residents. Sutrisno SutrisnoTujuan pengabdian pada masyarakat yang dilakukan pada para ibu anggota kelompok majelis taklim pengajian di Rukun Warga RW 62 Perumahan Candi Gebang Permai, Sleman, Yogyakarta sebagai mitra binaan ini, adalah untuk pemberdayaan ekonomi dalam rangka menambah pendapatan rumah tangga. Kegiatan yang dilakukan dengan menggandeng mitra Omah Kedelai sebagai pemberi materi pelatihan, adalah dengan mengolah produk berbahan dasar kedelai berupa susu kedelai dan nugget yang berasal dari ampas susu kedelai. Metode pelaksanaan berupa pelatihan, dan pendampingan untuk berwirausaha. Pada akhir pelaksanaan kegiatan, program berhasil dengan baik, terbukti dengan kemampuan mitra binaan mampu memproduksi dan memasarkan produk berbahan dasar kedelai, sehingga mampu pendapatan kelompok sekaligus bisa menambah penghasilan bagi rumah TuwuThis paper aims to elaborate the extent of women's role working in the informal sector at marine tourism area in Batu Gong Beach of Konawe District. This research is a qualitative research using case study approach. The data was collected using in-depth interviews, Focus Group Discussion, and observation. Interviews were conducted on 15 women who had been married and have children, who worked as rice sellers, gogos, burasa, sate pokea, beverages, cakes, candies, cigarettes, tire rentals for swimming equipment, rental mats for seat, etc. The results indicate that the role of women who work and have income play significant role to support the family finance. The income earned from selling is used to meet the needs of household life such as as the complementary of the husband and family income; for daily shopping needs; for school’s fee and children’s expenses; and for other important needs such as when it comes to crises, severe illness, and other family problems. This study is expected to be useful for scientific development in the theme of the role of women who work in creating a prosperous BasitChanges in society are so quick to have implications for the change of religiosity. These conditions demand achange in managing the activities of proselytizing, to more professional direction. One of the institutions that need to berevised is the women’s majelis taklim who have potential and significant role in life. Women’s majelis taklim need to bemanaged by using modern management with a way to empower both personal, institutional and social institutions. With theexpected empowerment, majelis taklim activities not only as a medium of learning and teaching community, but can playa role in addressing humanitarian problems that often befall women and also to improve the welfare of Nindya Putri Rudi Saprudin DarwisPerempuan dalam kelompok perempuan kepala keluarga diberdayakan agar dapat meningkatkan perekonomian keluarga. Perempuan harus mempunyai kemampuan untuk melihat potensi yang ada, peluang-peluang yang mungkin dapat dikebangkan , sehingga dengan mudah peluang tersebut untuk diperluas menjadi jaringan yang lebih kuat. Faktor yang menyebabkan seorang perempuan menjadi kepala keluarga di dalam rumah tangga, antara lain karena perceraian, perempuan yang hamil dan mempunyai anak setelah di tinggal oleh laki-laki, serta karena suami meninggal dunia. Perempuan memiliki peran ganda dalam rumah tangga yang secara fisik lemah justru dibebani dengan tugas berat. Selain sebagai ibu rumah tangga, ia juga sebagai kepala keluarga. Perempuan sebagai kepala keluarga harus menjalankan peran ganda untuk keberlangsungan hidup keluarganya. Sebagai kepala keluarga, perempuan harus mampu mengkombinasikan dengan baik antara pekerjaan domestik dan yang berstatus kepala keluarga dimana ia harus mencari uang untuk menafkahi keluarganya dan juga harus memenuhi kebutuhan kasih sayang peran perempuan merupakan pendekatan praktis yang dapat dilakukan seperti disaat kondisi ekonomi keluarga memaksa perempuan memainkan perannya sebagai penyangga ekonomi keluarga. Sejumlah aktivitas dapat digambarkan terkait cara program perempuan kepala keuarga dalam memotivasi mengembangkan potensi, membangkitkan kesadaan, peningkatan keterampilan angota, membangkitkan rasa percaya diri, menghilangkan hambatan, penguatan kelompok, pemberian bimbingan dan dukungan, serta pengembangan jaringan dan pemeliharaan kemampuan anggota. Kemudian kegiatan pemberdayaan perempuan ini dinilai bermanfaat dalam meningkatkan perekonomian SaugiSumarno SumarnoPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelatihan pengolahan bahan pangan lokal yang dapat memberdayakan warga perempuan dusun Pagerjirak, Kejobong, Purbalingga. Penelitian ini merupakan participatory action research PAR dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian terdiri dari kepala dusun, tujuh anggota tim pengelola dusun, dan 15 warga perempuan dusun. Data penelitian diperoleh dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. 1 Perencanaan partisipatoris terdiri dari identifikasi kebutuhan dusun dan penyiapan tim pengelola program dusun. 2 Pelaksanaan proses pemberdayaan melalui pelatihan dimulai dengan menyiapkan tim pengelola, membentuk kelompok usaha, menjalin kemitraan dengan pihak pemerintah dan swasta, membangun rumah produksi, mengajukan izin produksi, produksi dan pemasaran produk, melakukan studi banding ke industri rumah tangga, melakukan perbaikan dan diversifikasi produk, dilanjutkan dengan pelatihan massal, dan pendampingan. 3 Indikator keberhasilan pelatihan diantaranya adalah bertambahnya pengetahuan dan keterampilan warga, serta diperolehnya pendapatan hasil usaha penjualan produk. 4 Keberlanjutan program pemberdayaan perempuan ditunjukkan dengan telah adanya pengembangan produk atau variasi produk dan terbentuknya kemandirian Kunci pemberdayaan perempuan, pelatihan, bahan pangan lokal Woman Empowerment Through Local Produce Processing TrainingsAbstractThis research aims to reveal the local produce processing that can empower women in Pagerjirak, Kejobong, Purbalingga. This research was participatory action research with the qualitative and quantitative approach. The research subject consisted of the village chief, core team consisting of seven people, and 15 women in the village. The research data were obtained through observations, interviews, and documentation. The results of research are as follows. 1 The participatory planning consists of need analysis and preparing management team. 2 The training processes are conducted by preparing the management team, building the business unit, creating relation with the government and private sectors, building production houses, applying for production permits, producing and marketing, comparative study to home industry, reflecting, improving, and diversifying product, holding massive, and mentoring. 3 The indicators of a successful training are the improvement of knowledge and skills of women, and the profit of product sales. 4 The sustainability of women empowerment program are product development or diversification and the management team becomes more and more woman empowerment, training, local producePemberdayaan Perempuan Melalui Kegiatan Ekonomi Berkeadilan Simpan Pinjam Syariah PerempuanS HasanahHasanah, S. 2013. Pemberdayaan Perempuan Melalui Kegiatan Ekonomi Berkeadilan Simpan Pinjam Syariah Perempuan. SAWWA, 91, Pemasaran dan Loyalitas KonsumenR HurriyatiHurriyati, R. 2010. Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Bandung Alphabeta. - Mubalighah Muda dan Pendidika di Darus Sunnah International Institute for Health and Sciences, Izza Farhatin, menyampaikan, kegiatan pengajian majelis taklim di masa pandemi Covid-19 kini dilakukan secara virtual. Model virtual ini menjadi opsi yang harus diambil meski ada jamaah yang kesulitan mengikutinya. "Majelis taklim jadi tetap jalan, rata-rata jamaahnya adalah ibu-ibu yang melek teknologi," kata dia dalam diskusi bertajuk "Geliat Majelis Taklim di Masa Pandemi" yang digelar Republika, Sabtu 12/12, secara daring. Izza mengakui, jumlah jamaah yang mengikuti pengajian di masa pandemi mengalami penurunan signifikan karena digelar secara virtual. "Ibu-ibu yang menghadiri tidak sebanyak biasanya. Secara kuantitas sangat menurun. Biasanya yang tidak ikut itu yang sudah sepuh. Sedangkan yang usia muda-muda masih aktif mengikuti kajian," katanya. Bahkan, lanjut Izzah, ada majelis taklim yang tidak bisa melanjutkan kegiatan pengajian karena jamaahnya merupakan kalangan yang berusia senja. Materi pengajian yang diajarkan itu berkaitan gramatikal di dalam Alquran sehingga banyak di antara jamaah yang tidak nyaman jika kegiatan digelar secara virtual. "Jadi belum bisa lanjut karena belum begitu bisa menikmati kajian dengan menggunakan Zoom atau media digital lainnya," paparnya. Di sisi lain, ada juga majelis taklim dengan peserta dari kalangan yang beragam, mulai dari ibu-ibu yang berusia 40-an hingga 70-an. Jamaah yang berusia lanjut di majelis taklim didampingi anggota keluarganya saat hendak mengikuti pengajian melalui Zoom. Izzah menjelaskan, di masa awal pandemi Covid-19, pengajian majelis taklim sempat terhenti beberapa bulan. "Setelah Lebaran kemarin, melihat bahwa ada di antara jamaah yang usianya senja, akhirnya ketua dari majelis taklim itu memutuskan kajian diadakan via zoom dan itu berlanjut sampai saat ini," ujarnya. Pengajian melalui jarak jauh, terang Izzah, mulai dilakukan selama Ramadhan 2020. Ceramah yang disampaikan ustazah direkam dalam video lalu dibagikan ke grup WhatsApp jamaah majelis taklim. Cara ini menjadi pilihan karena sebagian jamaah kesulitan menggunakan Zoom. "Selama Ramadhan itu jadi kita sering mengirim video singkat berkaitan dengan keutamaan Ramadhan, dan tata cara ibadah. Selain itu kita juga tetap mengadakan kegiatan khataman mingguan, jadi masing-masing orang dalam satu pekan itu kebagian satu juz," katanya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persaudaraan Muslimah PP Salimah, Etty Pratiknyowati, yang juga hadir dalam acara diskusi itu menekankan pentingnya ketahanan iman dalam menghadapi pandemi Covid-19. Orang yang beriman harus menghadapi pandemi sebagai ujian Allah SWT dengan sikap yang diajarkan dalam Islam. "Dalam konteks ke-Salimah-an, penting untuk disampaikan kepada ibu-ibu majelis taklim, bahwa yang harus kita jaga itu adalah ketahanan, bahwa musibah atau ujian itu memang selalu ada, tetapi bagaimana daya tahan kita, itu yang paling penting," ucapnya. "Kita semua sebagai orang beriman menghadapi ini sebagai ujian, bagaimana kita harus memiliki sikap menghadapi pandemi, di hadapan Allah SWT dan juga manusia. Ini yang menjadi prinsip bagi kami. Di balik musibah, tentu ada banyak berkahnya," ujarnya. Etty juga menyadari, pandemi ini memengaruhi beberapa aspek seperti kesehatan, ekonomi dan psikologi. "Maka kami selalu ingatkan bahwa ketahanan keluarga itu sesuatu yang penting. Kami juga sampaikan kepada ibu-ibu jangan sampai kita goyah, kita yakin ini ujian Allah yang menguji keimanan kita," imbuhnya. PP Salimah, lanjut Etty, terus memperkuat kegiatan pendidikan, pelatihan dan ekonomi di masa pandemi sekarang ini. Tiga jenis kegiatan ini termasuk dalam dakwah yang dilancarkan Salimah ke tengah masyarakat. Berbagai hal pun menjadi objek kajian, misalnya pada bidang psikologi, parenting, enterpreneur, dan sebagainya sebagai langkah penguatan. Sementara untuk menguatkan ekonomi, Salimah memulainya dengan gerakan yaitu membangun lembaga koperasi. "Salimah sangat mendorong ibu-ibu untuk memiliki kemampuan untuk memproduksi sesuatu dan kita mendorong anggota majelis taklim dan anggota Salimah untuk membelinya agar produk itu terserap," tuturnya. SUARA SEMARANG - Sukarelawan Santri Dukung Ganjar SDG kembali menyelenggarakan pelatihan bercocok tanam menggunakan teknik hidroponik bersama ibu-ibu Majelis Taklim Pucang di Desa Srebegan, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada hari Senin 5/6. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan melatih keterampilan bertani para ibu-ibu. Dengan menerapkan metode hidroponik, diharapkan mereka dapat mengembangkan semangat berwirausaha berbasis pertanian. Gus Mukti Abdul Jabir, Koordinator Wilayah SDG Jateng, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan agar ibu-ibu di desa tersebut dapat membantu perekonomian keluarga dan berkontribusi terhadap lingkungan sekitar dengan memanfaatkan lahan untuk menanam sayur-sayuran. "Pelatihan ini agar para ibu-ibu di desa ini bisa membantu perekonomian keluarga sekaligus bisa berkontribusi bagi lingkungan di sekitarnya dengan memaksimalkan lahan untuk menanam sayur-sayuran," ungkap Gus Mukti dalam siaran persnya. Baca JugaHakim Perintahkan Shane Lukas dan Mario Dandy Pisah Sel di Lapas Salemba Selain itu, dalam pelatihan ini, para peserta juga diberikan pengenalan mengenai media tanam, penyakit yang umum terjadi pada tanaman hidroponik, serta pemasaran produk hasil budi daya hidroponik. Mereka juga diajarkan cara membuat nutrisi siap pakai untuk tanaman dan proses pemindahan bibit ke instalasi hidroponik. "Tentunya awal dasar hidroponik adalah pembenihan dan pembibitan, cara budi daya yang baik dan benar, kemudian diakhiri dengan panen," tuturnya. Tidak hanya memberikan pelatihan, SDG Jateng juga membagikan ratusan benih, seperti bibit sayur dan pakan ikan, kepada peserta pelatihan. Selama kegiatan, mereka juga memperkenalkan sosok Ganjar Pranowo kepada para peserta Majelis Taklim. Eni Murniati, salah satu perwakilan Majelis Taklim Pucang, mengapresiasi pelatihan yang dilakukan oleh SDG ini. Baca Juga7 WAGs Cantik Manchester United, Diva Ternama Spanyol Ia menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat, terutama para ibu-ibu. Menurutnya, kegiatan ini memberikan pengetahuan mengenai cara budi daya tanaman menggunakan sistem hidroponik. "Ibu-ibu sangat terbantu dengan kegiatan ini. Saya berharap SDG juga dapat menyelenggarakan kegiatan serupa di Kalimantan Tengah," ujar Eni setelah menerima bantuan bibit dari SDG Jateng.

kegiatan majelis taklim ibu ibu